Senin, 20 Desember 2010

Coretan Usil


Saya palsu dan saya akui itu. Berusaha terlihat tegar ketika orang lain menatap saya dan bertanya “ada apa denganmu?”. Saya menampilkan senyuman dan dengan manisnya berkata “tidak apa-apa”. Hati saya sering membeku dan bertanya-tanya, layakkah seseorang mengekspresikan kesedihannya ketika sebenarnya tidak seseorangpun yang benar-benar peduli. Saya harus meyakinkan hati sendiri, tampil sedih di hadapan orang lain yang akhirnya menarik simpati sampai semua orang iba bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Berkat itu, saya menutup diri dan tidak mengijinkan orang lain tahu jauh lebih dalam mengenai siapa saya.

Inilah mengapa saya benci menangis. Karena dengan menangis semua orang melihat saya sebagai sosok yang lemah. Hei kalian! Saya memiliki hati baja. Kalau tidak, berapa kali saya akan mencoba bunuh diri karena tekanan yang bertubi-tubi dari manusia-manusia laknat yang dengan ringannya mengeluarkan kata-kata terkutuk dan dengan senangnya menertawakan kelemahan pada diri manusia ini. Yak! Itu lucu sekali! Tapi bila ku objeknya, tidak lagi!

Untuk mengatasi semuanya, saya belajar menyalahkan diri saya sendiri. Kenapa saya tidak bisa tampil baik depan orang lain? Kenapa saya membiarkan orang lain menghina saya? Kenapa saya dilahirkan dengan fisik dan raga yang tidak sempurna? Kenapa saya harus masuk ke lingkungan yang tidak menyenangkan? Kenapa dan kenapa? Dan jawabannya selalu sama, ini adalah kebodohan saya. Saya tidak akan lagi marah pada anda, anda, dan anda. Biarlah ini tetap menjadi kesalahan saya, selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar